Alasan LPI Beri Rintangan Untuk Capres Dan Cawapres 2019

Alasan LPI Beri Rintangan Untuk Capres Dan Cawapres 2019 – Direktur Instansi Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens membuka beberapa rintangan yang akan ditemui jika Joko Widodo atau Prabowo Subianto dipilih jadi Presiden Indonesia pada tahun 2019.

Boni menuturkan hal itu waktu diskusi bertopik “Membaca Waktu Depan: Seperti Apakah Indonesia Bila Jokowi atau Prabowo Dipilih?” di lokasi Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/1/2019).

Boni menjelaskan, pasangan nomer urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin lebih konsentrasi pada pemerataan pembangunan, infrastruktur, kemaritiman serta banyak hal yang lain. Sedang pasangan calon nomer urut 02 Prabowo-Sandiaga penekanannya pada nasionalisme ekonomi.

“Ini menarik sebab dalam pengakuan terbuka, cukup menarik sebab dalam banyak hal Paslon ini pula mengatakan ekonomi liberal. Lantas ada wawasan NKRI syariah, rumor ketimpangan ekonomi serta instabilitas harga,” katanya di lokasi Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/1/2019).

Jika Jokowi-Ma’ruf pimpin, katanya, jadi NKI serta Pancasila akan tidak diganggu tuntut. Sesaat bila Prabowo-Sandiaga menang, maka suport dari ormas garis keras seperti HTI, FPI, serta tim Cendana.

“Prabowo-Sandi akan mendaur lagi rezim Orba dalam variasi yang lebih jelek sebab ada perkawinan pada rezim otoriter serta pro-khilafah,” kata Boni.

Dari bagian ekonomi, katanya, Jokowi-Ma’ruf akan mengangkat ide ekonomi keumatan yang Boni nilai menjadi dobrakan baru perekonomian Indonesia. Lewat cara lakukan pendistribusian asset serta memperluas program kemitraan dengan grup ekonomi penduduk.

“Ekonomi berbasiskan koperasi sekaligus juga menguatkan peranan pesantren menjadi motor perekonomian di bidang hilir,” terangnya.

Sesaat bila Prabowo-Sandi yang dipilih, sambungnya, pada umumnya visinya adalah gabungan prinsip liberal serta nasionalisme ekonomi kerakyatan. Akan tetapi Boni lihat, ada 36 tindakan program ekonomi Prabowo-Sandi yang pada umumnya telah dikerjakan oleh Jokowi.

“Dalam kata lainnya, tidak ada perihal yang baru dalam misi ekonomi Prabowo-Sandi,” tuturnya.

Paling akhir pada kerangka budaya, bila Jokowi dipilih, akan tidak ada bentrokan dengan otentisitas budaya nasional serta budaya lokal. Sesaat Prabowo, katanya, mencampurkan budaya lokal serta nasional menjadi kemampuan, sekurang-kurangnya bisa bertahan dari arus besar budaya global.

“Bila Prabowo yang dipilih, ada tanda-tanda serta kekuatan kuatnya budaya Islam dalam khasanah kebudayaan lokal serta nasional. Ada kekuatan bentrokan perubahan budaya arabisme dengan budaya nasional,” papar ia.